Sejarah Kaum Quraisy Menurut Al-Qur’an dan Sunnah
Pendahuluan
Kaum Quraisy adalah salah satu suku Arab yang memiliki kedudukan sangat penting dalam sejarah Islam. Mereka dikenal sebagai penjaga Ka’bah, penguasa Makkah, sekaligus kaum yang memiliki peran besar dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad ﷺ. Al-Qur’an secara khusus menyebutkan Quraisy dalam satu surah pendek, yaitu Surah Quraisy, yang menegaskan nikmat Allah kepada mereka serta kewajiban untuk beribadah hanya kepada-Nya.
Asal Usul Kaum Quraisy
Kaum Quraisy merupakan keturunan dari Fihr bin Malik bin an-Nazr bin Kinanah, yang kemudian dijuluki Quraisy. Dari keturunan Fihr inilah lahir berbagai kabilah dan marga yang akhirnya dikenal sebagai kaum Quraisy.
Mereka menempati kota Makkah, sebuah tempat yang sangat istimewa karena menjadi pusat ibadah dengan adanya Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Hal ini menjadikan Quraisy sebagai penjaga Ka’bah dan memiliki kedudukan tinggi di antara suku-suku Arab lainnya.
Kedudukan Quraisy di Jazirah Arab
Seiring waktu, Quraisy menjadi bangsa yang disegani karena beberapa faktor:
-
Penjaga Ka’bah
Mereka bertugas menjaga Baitullah dan mengurus jamaah haji yang datang dari berbagai penjuru Arab. Hal ini memberikan mereka kehormatan spiritual. -
Kekuatan Ekonomi
Quraisy dikenal sebagai pedagang ulung. Mereka memiliki dua perjalanan dagang besar setiap tahun, yaitu ke Yaman pada musim dingin dan ke Syam pada musim panas. Hal ini diabadikan dalam QS. Quraisy [106]: 1-2:
“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.” -
Pengaruh Politik
Karena peran spiritual dan ekonomi yang besar, Quraisy juga memiliki pengaruh politik yang kuat di Jazirah Arab.

Kondisi Keagamaan Quraisy Sebelum Islam
Meskipun mereka adalah keturunan Nabi Ibrahim dan Ismail, kaum Quraisy menyimpang dari ajaran tauhid. Mereka menyembah berhala dan menaruh patung-patung di sekitar Ka’bah. Menurut riwayat, ada sekitar 360 berhala di sekitar Ka’bah pada masa jahiliyah.
Selain itu, mereka juga melakukan praktik jahiliyah seperti mengubur anak perempuan hidup-hidup, minum khamr, berjudi, serta menindas orang lemah. Inilah yang menjadi salah satu alasan Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ dari kalangan Quraisy untuk mengembalikan ajaran tauhid.
Quraisy dan Dakwah Nabi Muhammad ﷺ
Ketika Nabi Muhammad ﷺ mulai berdakwah, kaum Quraisy menjadi kelompok pertama yang menentangnya. Meskipun beliau berasal dari keluarga Quraisy, mayoritas pemuka Quraisy menolak keras dakwah Islam karena beberapa alasan:
-
Takut kehilangan kedudukan sebagai penjaga Ka’bah jika masyarakat beralih dari penyembahan berhala.
-
Takut kehilangan keuntungan ekonomi dari para peziarah yang menyembah berhala.
-
Kesombongan kesukuan, karena tidak mau tunduk pada seorang nabi dari kalangan mereka sendiri.
Tokoh-tokoh Quraisy seperti Abu Jahal, Abu Lahab, dan Walid bin Mughirah dikenal sebagai penentang keras dakwah Nabi. Bahkan, mereka menyiksa para pengikut Nabi yang lemah, seperti Bilal bin Rabah, Ammar bin Yasir, dan Sumayyah.
Namun, tidak semua Quraisy menolak Islam. Banyak di antara mereka yang akhirnya masuk Islam, seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Bahkan setelah Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah), mayoritas Quraisy akhirnya memeluk Islam.
Quraisy dalam Al-Qur’an
Surah Quraisy adalah bukti nyata kedudukan mereka dalam Al-Qur’an. Dalam surah itu, Allah mengingatkan Quraisy atas nikmat-Nya yang menjadikan mereka aman dan makmur, lalu memerintahkan mereka untuk beribadah hanya kepada Allah, Tuhan pemilik Ka’bah.
Selain itu, dalam Surah Al-Masad, Allah mengecam Abu Lahab, salah satu pemuka Quraisy yang paling keras menentang Nabi. Ini menjadi peringatan bahwa kedudukan tinggi tidak berarti jika menolak kebenaran.
Hikmah dari Sejarah Quraisy
Sejarah kaum Quraisy memberikan banyak pelajaran berharga bagi umat Islam:
-
Nikmat harus disyukuri dengan ibadah – sebagaimana Quraisy diingatkan dalam Surah Quraisy.
-
Kedudukan duniawi tidak menjamin keselamatan akhirat – Abu Jahal dan Abu Lahab binasa meski punya status tinggi.
-
Hidayah Allah lebih utama daripada garis keturunan – meski dari kaum Quraisy, hanya yang beriman yang dimuliakan Allah.
-
Islam menyatukan manusia di atas tauhid – setelah masuk Islam, Quraisy menjadi bagian penting dalam menyebarkan dakwah ke seluruh dunia.
Penutup
Kaum Quraisy memiliki sejarah yang panjang dan penuh pelajaran. Dari sebuah kaum penjaga Ka’bah yang terjerumus dalam penyembahan berhala, mereka akhirnya menjadi umat yang memeluk Islam dan berperan besar dalam menyebarkan agama Allah ke seluruh dunia. Kisah Quraisy sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah mengingatkan kita bahwa nikmat Allah harus selalu disyukuri, kesombongan harus ditinggalkan, dan hanya dengan iman serta amal saleh manusia mendapatkan kemuliaan di sisi Allah.








